Friday, March 16, 2007

Sistem dan Kebebasan Berpikir

Kita diberi hidup hanya sekali, waktu yang selalu menemani kita tidak bisa berjalan mundur, alam semesta begitu luas langit bumi beserta isi didalamnya, namun mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri.. dari sekian luas arena semesta yang diberikan ke kita dengan waktu yang begitu terbatas yang kesempatannya diberikan ke kita, seberapa banyak yang telah kita nikmati ?

Dunia ini begitu luas, begitu banyak yang "seharusnya" bisa kita perbuat,namun mari kita pertanyakan kembali, sudah berapa banyak yang telah kita perbuat?

Sering kita tidak bisa berbuat banyak dari yang "seharusnya" hanya karena kita terbatasi oleh sistem, hanya karena kita merasa tidak berani keluar dari sistem sehingga kita lebih merasa nyaman mengikuti sistem yang telah ada karena sistem yang telah ada itu di amini oleh lingkungan kita sebagai kesepakatan bersama meskipun kita merasa sistem itu telah membelenggu kita. Pertanyaannya, apakah sistem yang kita jalani ini benar-benar kita sadari sudah match dengan yang ada dalam diri kita? atau kita memang "terpaksa" berkompromi dengan diri untuk tetap mengikuti jalan dan sistem yang ada karena kita tidak berdaya untuk membuat sistem sendiri?

Merasa tidak berdaya menurutku itu masih bisa ditolerir tapi yang kritis apabila kita tidak mau merubah atau membuat sistem yang sesuai dengan kita karena kita "tidak mau"!!!

Ketika kita terlarut dalam sistem yang telah terbentuk cenderung kita akan mengikuti dan akan terjadi pergulatan dalam batin kita apakah kita cocok dengan sistem yang ada apa tidak. Ketika kita bisa berkompromi itu tidak akan menjadi soal, walaupun level kompromi kadang ada batasnya.

Hal yang menurutku penting adalah tidak soal apakah kita mengikuti sistem yang ada, berkompromi ataupun terpaksa mengikuti sistem yang ada selama "PIKIRAN KITA MASIH BISA BERPIKIR MERDEKA".

Jangan sampai sistem yang ada dilingkungan kita mengkebiri pikiran kita, karena pikiran, proses berpikir,output ataupun outcome dari pikiran kita adalah hal esensi yang kita punyai sebagai manusia.

3 Comments:

At 3:55 PM, Anonymous Kampret Nyasar said...

Kekebasan berpikir, ya..benar sekali.. paling tidak itu adalah lini pertahanan terakhir..

Kalau kebebasan itu sudahterampas, wah bagaimana jadinya kesehatan mental-nya..

Seneng udh bisa mampir kesini,s alam kenal dan salam hangat dari afrika barat :)

 
At 3:35 AM, Anonymous dudi said...

abot bud, seperti perjalanan batinmu dewe koyok'e :-D

 
At 2:00 PM, Anonymous anggie bratadinata said...

iki blog wis setengah taun ga diupdate!

 

Post a Comment

<< Home