KUALITAS RELASI DENGAN PENCIPTA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA

Oleh: Aas Rukasa (www.TheNewCiviliSation.com)
“Barang siapa yang zikirnya kepadaKu menyebabkan ia lupa memohon kepadaKu, Aku akan memberinya sesuatu yang lebih besar daripada apa-apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepadaKu.”

Apakah Arti Berzikir?

Berzikir itu tidak hanya bertasbih, bertahmid, dan bertahlil kepada Allah. Berzikir itu mengingat. Ada beberapa tahap mengingat, mulai dari menyebut (tahap doktrin), memanggil (tahap kebutuhan), menghadirkan (tahap mesra), hingga fana (being one with, tahap menyatu). Pada tahap fana, Maha Dekatnya Allah tak lagi terbantahkan. Hubungan dengan Allah sudah terkondisikan pada tingkat sistem neural yang permanen. Jadi bertasbih, bertahmid, dan bertahlil itu baru merupakan zikir tahap pemula (yaitu tahap doktrin sampai tahap kebutuhan).
Mengingat itu artinya me-recall sesuatu yang tadinya diketahui dan dikenali tapi terlupa. Kapan kenalnya? Yaitu ketika manusia menerima delegasi untuk menjadi khalifah di muka bumi. “Alastu birobbikum”, bukankah Aku ini Tuhanmu? “Balaa, syahidna”, benar, kami menjadi saksi, demikian jawab manusia (Al A’raf 172).
Rabb artinya Fasilitator, Dia tak hanya memiliki, tapi juga mendidik (menuju kematangan) dan memelihara. Robbil ‘alamin menghendaki seluruh alam, termasuk manusia, tumbuh sebaik-baiknya sebagaimana tujuan penciptaannya. Pertanyaan “Alastu birobikum. Bukankah Aku Fasilitatormu?” mengundang kita untuk mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita dihadirkan di bumi ini. Zikir merupakan alat untuk me-recall semua itu, juga mengingatkan kita akan peran kita sebagai wakilNya dalam memelihara alam.
Zikir juga memiliki arti berkontemplasi.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi para ulul albab (orang-orang yang tercerahkan), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Ali Imran:190-192)
Berzikir juga dilakukan oleh alam, tujuannya adalah untuk memenuhi keteraturan. Sebagai bagian dari alam, manusia pun berzikir, tapi di tingkat seluler dan kuantum. Manusia belum tentu berzikir di tingkat kognitifnya. Mengapa?
Karena -bisa jadi- manusia lupa.
Mengapa Manusia Lupa?
Kehidupan berasal dari Singularitas, ruang hampa kuantum yang merupakan sumber dari segala sesuatu. Ketika manusia diturunkan (baca: dilahirkan) ke bumi, ia memasuki medan yang berlapis-lapis akibat pengaruh gravitasi yang menciptakan ruang waktu. Lapisan-lapisan medan tersebut menjadi hijab bagi manusia. Hijab-hijab ini yang membuat manusia terlupa akan asal-usul dan kesaksian “Balaa, syahidna” yang pernah dialaminya. Jadi, seluruh perjalanan spiritual manusia dapat dikatakan sebagai upaya menapak tilas asal-usulnya.



Singularitas ini tak mengandung gerakan, tak ada ruang waktu, tak ada dimensi timur atau barat. Namun Singularitas ini besar pengaruhnya terhadap medan-medan yang ada di bawahnya. Ketika kehidupan memasuki medan kosmik atau medan higgs, mulai ada ruang waktu, walau lajunya tidak mengikuti konsistensi linear. Dimensi ruang waktu ini perlahan-lahan semakin mengental pada medan bioenergi, dan menjadi sangat dominan pada medan polar atau dunia fisik. Kita dapat melihat adanya hijab antara medan polar dan Singularitas yang menjadi penghalang bagi penglihatan kita.


Singularitas (bahan baku alam semesta)
Medan Kosmik (terkait dengan kesadaran kosmik)
Medan Bioenergi (dari etheric sampai spirit body)
Medan Polaritas
(dari elektromagnetik sampai etheric body)
Area
Sumber
Makna
Citra
Bentuk
Hubungan dengan Ruang- Waktu
Tidak mengenal ruang waktu. Masa lalu, masa kini, masa depan merupakan sesuatu yang absolut .
Sedikit sampai tidak dipengaruhi ruang waktu. Konsistensi laju waktu hilang.
Perubahan ruang waktu semakin tidak kronologis, sifat-sifat lokal makin ke atas makin berkurang, sehingga gerak ruang waktu makin longgar
Perubahan ruang waktu terasa sebagai suatu yang bersifat kronologis.
Batas-batas Dimensi
Tidak mengenal batas, bentuk, dan struktur
Batas-batas individual dan antar objek (sifat lokalitas) luluh secara bertahap sampai lebur
Ada interkoneksi secara selektif antar objek sesuai citra secara kualitatif
Batas-batas antar objek dan individu jelas
Kandungan Informasi
Merupakan sumber informasi dan pemahaman absolut.
Medan bersifat holografis, dimana satu bagian memuat keseluruhan informasi, melampaui batas individu atau objek2 lokal
Setiap lapisan medan memuat Informasi yang saling interkoneksi dengan medan lain, sehingga bisa saling merepresentasikan
Informasi terbatas, frekuensi tertentu memuat informasi tertentu
Sistematika
Non sistematis, non simbolik.
Interpretasi terbuka. Simbolis dan filosofis.
Sistematika non linear, kualitatif.
Sistematikanya linear dan terukur.

Ketika manusia berzikir, sesungguhnya ia sedang menyatukan antara tubuhnya –yang berzikir di tingkat elementer- dengan pikirannya. Penyatuan antara tubuh dan pikiran tersebut akan menguatkan intensitas kesadaran manusia dalam mengakses kesadaran kosmik. Kesadaran kosmik inilah yang akan mengantarkan ingatan kita pada perjanjian dengan Allah di alam ruh.

Zikir Mengubah Takdir

Kita berasal dari the “Unseen world” sebagaimana dikisahkan di atas. Al Quran memulai wacana iman (belief) dengan anjuran untuk beriman terhadap yang ghaib (the Unseen World). Memperkuat iman hanya bisa dilakukan melalui zikir. Zikir yang paling efektif adalah zikir yang dilakukan di tingkat Singularitas (fana), karena zikir setingkat ini memiliki kekuatan penuh untuk mereplikasi sifat-sifat Tuhan (asma’ul husna) terhadap diri lokal kita. Zikir pada tingkat ini menghasilkan self-empowerment yang berdampak multidimensional. Pada kehidupan sehari-hari, kita akan merasakan manfaat self-empowerment tersebut sebagaimana kutipan berikut:
“Your belief act like filters on camera, changing how you see the world. And your biology adapts to those beliefs. When we truly recognize that our beliefs are that powerful, we hold the key to freedom. While we cannot readily change the codes of our genetic blueprints, we can change our minds.” (Bruce H. Lipton, the Biology of Belief, 2005, p.143)

Zikir dan Identitas Diri

Katakanlah : “Kepunyaan siapakah apa yg ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. (Al An’am:12)
“Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah (zikir yang mencapai steady state / Singularitas), sedang dia orang yg berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada urwah (buhul tali) yang kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan” (Luqman:22)
Urwah berakar kata yang sama dengan riwayat. Ayat Luqman:22 mengisyaratkan bahwa identitas atau riwayat kita akan semakin kuat jika kita menjadi orang yang ‘God oriented’ (karena menyerahkan wajah kepada Allah), dan berada di dalam Allah. Tak ada sesuatu selain Allah. Segala sesuatu mewujud atas izin Allah.

Zikir Memfasilitasi Kepemimpinan

Manusia adalah khalifatullah. Kehadiran Allah di dunia dan dalam diri manusia itu harus diketahui dan dikenali. “Kuntu Kanzan Makhfiyya... Aku adalah Khasanah Tersembunyi, dan aku ingin dikenali.” Karena itu:
1. Sebagai wakil Allah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak.
2. Manusia harus mengadopsi kualitas-kualitas ilahi dan mengaktualisasikannya.
3. Manusia wajib menjaga keseimbangan. Karena hanya manusia yang memiliki kualitas sentralitas, totalitas, dan kekhalifahan, sehingga citra Allah bisa direfleksikan secara penuh. Pada Allah, segenap sifat Allah itu merupakan kesatuan yang tak terbedakan. Pada kosmos, sifat-sifat Allah hadir dalam kemajemukan yang terpisah-pisah. Hanya pada manusia kualitas Allah tersebut hadir dalam dua cara, sehingga manusia menjadi realitas perantara yang penting. (Manusia pulalah yang berpotensi merusak keseimbangan antara Allah dan kosmos)
Segenap kualitas-kualitas ilahiah yang penting dalam mengemban tugas kepemimpinan tersebut hanya bisa diadopsi dan diseimbangkan melalui zikir.

Zikir Itu Mencerdaskan

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (insan) dengan perantaraan kalam”. (Al Alaq)
Ayat ini mengajak manusia untuk berpikir secara terintegrasi, dan itu hanya bisa dilakukan dengan menyebut nama Allah. Membaca itu mengkomposisi ulang realita lalu memaknainya (Quraish Shihab), berkontemplasi dan mengiterasi (Yusuf Ali). Manusia diciptakan dari segumpal darah yang rendah, tapi Rabb menyebut manusia dalam istilah ‘insan’, mahluk pembelajar, bukan basyar (mahluk biologis) atau nas (mahluk yang mengikuti dorongan psikologis). Iqra’ dalam konteks ini adalah ajakan berkontemplasi.
Allah itu cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang berkilau seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur ataupun barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (An Nur: 35)
(Kaca itu tak bercahaya, tapi mampu menjadi medium dan memancarkan cahaya Allah bagaikan bintang. Pelita melambangkan Allah, kaca melukiskan manusia yang berada dalam kapasitas penuh, dan minyak zaitun menyimbolkan hati manusia yang beriman.)
Cahaya di atas cahaya. Realitas itu multidimensi, semakin tinggi (atau dalam) sebuah dimensi, semakin banyak kandungan informasinya. Pada puncaknya, realitas tertinggi (atau terdalam) adalah realitas yang padat informasi, realitas yang memuat segala sesuatu. Di sinilah kecerdasan kosmik relevan, karena kecerdasan kosmik berhubungan dengan realitas multidimensi.
Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki. Artinya, Allahlah yang mengantarkan kita pada kapasitas kita yang tertinggi, Allahlah yang membukakan pintu pengetahuan yang tak terbatas. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa ketika ia memanggilKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka berada di dalam kebenaran/pengetahuan/kecendekiaan (rusydi)” (Al Baqarah:186)
Alam bersifat holografis, demikian pula otak manusia. Otak holografis memiliki kapasitas yang luar biasa. Jika hologram bisa menyimpan informasi sebesar 10 milyar bit dalam satu sentimeter kubik, secara rata-rata, otak manusia berkapasitas seluas alam semesta, karena sepanjang hidupnya, otak manusia bisa menyimpan informasi sebanyak ± 2,8x1020 bit.
Ayat An Nur:35 di atas juga menyiratkan sebuah cara kerja holografis baik pada alam maupun pada otak manusia.
Model Kesadaran Holografik Keith Floyd:
Dalam pendekatan neurofisiologi, otak kini diyakini sebagai sistem optik yang memproses bio-pancaran cahaya (bioluminescence). Otak merupakan “layar kesadaran”, bagaikan lempeng holografik organik yang memproses rekonstruksi berbagai persepsi dan gambar tiga dimensi. Paduan antara kelenjar bawah otak, thalamus, hypothalamus, dan organ kecil pada tulang belakang merupakan teater kesadaran. Organ kecil pada tulang belakang tersebut tersusun oleh jaringan yang peka terhadap rangsang cahaya. Organ kecil tersebut menempati titik tengah di pusat medan energi neural, lokasi terjadinya pendaran cahaya yang dianggap sebagai layar kesadaran.
Tetapi agar otak kita bekerja secara holografis, kita harus mengakses Singularitas (tauhid, tahap fana), mencapai kecerdasan kosmik. Pertanyaannya, bagaimana cara mencapai Singularitas?
Ber-muraqabahlah kamu dengan Tuhanmu yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, ketika kamu sendiri maupun berada di tengah keramaian. Dan jadikan pandangan matamu seakan-akan melihatNya. Apabila kamu tidak melihatNya, Dia-lah yang melihatmu.” (K.H.A. Shohibulwafa Tadjul ‘Arifin, Miftahus Shuduur, 1970)
Zikir dan Kinerja
Zikir di tingkat Singularitas akan meningkatkan kualitas perilaku, di antaranya: produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Perilaku-perilaku tersebut merupakan prinsip-prinsip utama dalam konteks manajemen. Zikir menginspirasi orang untuk menghargai waktu dan melakukan apapun sebaik-baiknya, sehingga ia akan selalu menerapkan prinsip efisiensi dan efektivitas.
“Dan kami tinggikan zikirmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Al Insyirah)
Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Hasyr:18)
Takwa artinya beware dalam konteks implementasi, dengan memperhatikan konsistensi dan quality assurance, sehingga layak untuk diaudit oleh Allah.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al Qashash:77)
“Lebih baik dari hari kemarin adalah untung , sama dengan hari kemarin adalah merugi, dan lebih buruk dari hari kemarin adalah celaka ...”

Hubungan antara Kualitas Mindset dengan Kinerja:


Mindset Biasa:
“Aku kuat”
Mindset Plus:
“Allah Maha Kuat dan tanpa jarak denganku”
Level Gagasan
Berada pada tingkat pengelolaan mindset atau auto hypnosis, karena ‘aku’ bersifat lokal yang mengandung keterbatasan.
“Allah Maha Kuat, juga Maha Dekat”. Pernyataan ini berada pada level belief, mindset, hingga biologis, sehingga memiliki kemampuan me-recode DNA.
Level Infrastruktur
Ada rentang lokalitas, sehingga ketika tingkat kesulitannya berlebihan, mindset tersebut menjadi gugur. (Misalnya, keberanian dalam menjalani perang di Timtim, belum menjamin adanya keberanian yang sama dalam menjalani perang Iraq).
Pengaruhnya bersifat permanen dan konsisten. (Memiliki keberanian yang konsisten dalam menghadapi persoalan seberat apapun)
Level Implementasi
Memunculkan rasa ‘pride’ yang bisa melalaikan dan menjatuhkan.
Terdapat warning system dari control system yang manajemennya tersentralisasikan di God Spot, meliputi: sistem biologis (neural, seluler, dan elektromagnetik), sistem mindset, dan sistem belief.
Berbuat berdasarkan nilai-nilai yang tidak universal.
Berbuat yang terbaik dalam segala hal, berakhlak dengan akhlakNya: dengan nama Allah, kekuatan Allah dan untuk Allah. Segala sesuatu akan bernilai ibadah (mempunyai nilai universal).

Usaha Optimal, Keberuntungan

Segala "perangkat" baik itu otak,akal, rasa, fisik dan lain sebagainya yang melekat pada diri kita tentu diberikan bukan tanpa maksud dan tanpa tujuan tentu dengan segala konsekuensinya. Apabila kita bisa mengetahui, memahami dan mengerti maksud,tujuan dan konsekuensi dari itu semua tentunya kita akan berupaya mengoptimalkan semua perangkat yang ada untuk memenuhi maksud dan tujuan tersebut.

Sering kali ketika kita belajar sesuatu semakin dalam maka semakin kita merasa kita ini semakin tidak tahu apa-apa *bodoh*.

Sering kali ketika kita berusaha habis-habisan untuk mengejar/mendapatkan/menuju sesuatu semakin kita merasa betapa waktu begitu cepat berjalan dan berartinya sebuah waktu.

Menurut saya hal yang cukup "licin" yang bisa menjebak kita apabila sebuah tujuan itu sudah berubah menjadi obsesi. Obsesi yang saya maksudkan disini adalah sebuah tujuan yang "harus" terwujud yang menjebak kita masuk pada area psikologis pada pikiran kita bahwa kita yang menjadi "penentu".

Bukankah kita dikasih otak untuk berpikir yang digunakan untuk memutuskan atau menentukan ? ya benar menjadi penentu dalam memutuskan "sikap" kita. Dapatkah kita menentukan kondisi diluar diri kita ? ya kita bisa "berkontribusi" menentukan kondisi tapi tidak sepenuhnya itu adalah kontribusi full dari kita, karena banyak parameter dan variable lain diluar kita yang juga mempengaruhi kondisi tersebut.


Contoh simplenya:saya ingin rumah saya menjadi warna putih (menentukan sikap), untuk menjadikan rumah saya menjadi warna putih maka saya harus mengkondisikan rumah saya yaitu dengan cara mengecat rumah saya dengan cat warna putih, untuk mengecat rumah dengan warna putih maka saya harus mendapatkan cat warna putih (variable diluar diri kita) untuk itu saya akan membeli cat warna putih dan saya pergi ke toko cat -sikap berusaha-,

ketika pergi ke toko cat bisa terjadi berbagai kemungkinan, cat warna putih tidak ada, toko tutup, penjualnya tidak ada -kondisi diluar kontrol kita-

kondisi yang lain, cat warna putih ada, penjualnya ada, duit kita cukup, kita dapat discount, cuaca cerah sehingga kita bisa mengecat rumah - kondisi sesuai dengan yang kita harapkan *bukan kita yang menentukan*-

Apabila variable-variable diluar tersebut ternyata sinkron -baca:approve- dengan harapan kita tentunya tidak berlebihan kalau kita bilang "KITA SEDANG BERUNTUNG"

Apakah "kondisi beruntung" itu kita bisa dapat tanpa kita harus berusaha optimum ?

Tentu tidak ada ruginya kalau kita selalu berusaha optimum, kalau mengikuti hukum aksi reaksi apabila kita beraksi/berusaha secara optimum mestinya hasilnya akan optimum pula.

Mungkin suatu hasil usaha yang kita "anggap" adalah sebuah "keberuntungan" merupakan hasil/impact dari usaha kita yang optimum pada usaha kita sebelum-sebelumnya yang tidak kita sadari.

Menjadi Manusia Yang Beruntung

Jadi ingat omongan seorang teman :
" Orang berani itu kalah sama orang nekat"
" Orang nekat itu kalah sama orang yang beruntung"

"PALING ENAK ITU MENJADI MANUSIA YANG BERUNTUNG", kalimat tersebut menggambarkan nuansa suatu kondisi kita terlepas/lolos dari hal yang tidak mengenakkan, kondisi tercukupi, tidak ada kesulitan, happy ending karena tujuannya tercapai.


Ketika kita mendapatkan apa yang kita tuju (misalnya menang tender proyek) kemudian kita berkata: "saat ini kita sedang beruntung sehingga kita bisa menang tender", kata-kata tersebut secara psikologis akan membantu kita meminimalisir rasa sombong, mengkondisikan otak kita untuk bersyukur karena kita masih diberi kepercayaan anugerah, kita akan tetap selalu waspada dan akan berusaha lebih baik lagi.

MENJADI MANUSIA YANG BERUNTUNG, kalimat yang menunjukan kalimat akibat/impact/reaksi, pertanyanya adalah "apa AKSI yang harus dilakukan untuk menghasilkan reaksi MENJADI MANUSIA YANG BERUNTUNG?" (hukum aksi reaksi, sebab akibat)..


Allah Masih perlu dibela ya? Jihad di Jalan Allah apa maksudnya?

Apakah Allahuntuk menunjukkan eksistensinya dan eksistensi aturan-aturannya perlu "pembelaan" dari manusia ? Sekecil itukah kekuasaan Allah yang katanya Maha Kuasa itu sehingga ada orang yang mengatas namakan dirinya membela "peraturan" Tuhan agar tetap eksis, yang tidak sesuai dengan "peraturan Allah" dalam persepsi si pembela itu maka harus musnah dari muka Bumi.

Kalau memang Allah menghendaki semua yang ada di muka bumi ini seragama "baca: seragam agama dan keyakinan" apa susahnya tinggal KUN FAYAKUN dibikin semua seragam agama dan keyakinan. (TIDAKKAH KALIAN BERFIKIR ?)

Kalau kita memposisikan diri sebagai pembela Allah apakah kita tidak "mengkerdilkan" Allah itu sendiri yang jelas maha kuasa dan "BERDIRI SENDIRI (Qiyamuhu binafsihi)", dengan memposisikan diri sebagai pembela Allah mungkin perlu dipertanyakan kembali tentang eksistensi si pembela itu, eksistensi akan keyakinannya atas kekuasaan Allah yang Maha Besar dan Maha tak Terbatas...

semua yang terjadi jelas sudah mendapat Ridlo Allah, kalau tidak mendapat Ridlo Allah dengan sendirinya akan tenggelam...

perbedaan agama dan perbedaan keyakinan sudah berlangsung sejak jaman dahulu kala.. dan sampai sekarang masih ada... berarti Allah meridloi itu semua...

Jihad di jalan Allah, apa makna kalimat ini? yang mana jalan Allah itu? bukankah semua yang ada di muka bumi ini ada dalam kekuasaan-Nya semua dalam kendali-Nya, apakah semua yang ada dimuka bumi ini baik itu jelek atau baik atau yang lain-lain itu bukan Jalan Allah ?

Kalau bukan Jalan Allah lalu JALANNYA SIAPA? adakah PENGUASA SELAIN ALLAH yang punya jalan sendiri ?

kalau ada Jihad di jalan Allah berarti ada Jihad di jalan selain Allah ? kalau percaya yang Maha Kuasa itu hanya Allah kenapa masih ada pernyataan JIHAD DI JALAN ALLAH..?

Cinta adalah Keseimbangan...



Cinta, kasih sayang dan ikhlas adalah sebuah keseimbangan...
alam semesta yang begitu indah selalu memperlihatkan cinta,kasih sayang dan ikhlasnya.. namun sering kali mata kita tertutup karena sebuah emosi sesaat dan nafsu keserakahan..

Tunas Itu Mulai Tumbuh

Tunas-tunas muda itu mulai tumbuh, dengan masih ada semangat merah putih yang tersisa meskipun masih terasa aneh di zaman seperti sekarang ini, mereka sedang melukis mimpinya di ujung langit, sadar perlunya bercermin dan perbaikan diri, menatap kedepan lebih optimis, jadikan masa lalu tidak hanya sejarah tapi adalah bagian dari lukisan diri yang tak mungkin dihapusnya kembali yang hanya mungkin diperbaiki atau dibiarkan apa adanya sampai hilang ditelan zaman.

Zaman telah berubah, cara memandang dan berpikir mungkin perlu berubah mengikuti zaman

Tunas yang sedang tumbuh akan terus mencari jalan dimana arah matahari bersinar, tak ada yang bisa menghentikannya, tidak kau dan tidak juga aku kecuali dirinya sendiri

Semoga semesta merangkul tunas-tunas muda itu bercengkrama dengan mereka untuk mewujudkan mimpi-mimpinya...



Sinergi = balance X harmony

"Synergy (from the Greek synergos, συνεργός meaning working together, circa 1660) refers to the phenomenon in which two or more discrete influences or agents acting together create an effect greater than that predicted by knowing only the separate effects of the individual agents (diquote dari http://en.wikipedia.org/wiki/Synergy)

Sinergi, ya sebuah kata yang sering digaung-gaungkan, bahwa dengan bersynergi 1+1 bisa sama dengan 100 tanpa synergi maka 1+1=2. Variable apa saja yang bisa membuat "sistem synergi" bisa berjalan ?, kenapa saya sebut system karena di dalam sinergi itu sendiri ada beberapa hal yang saling terkait dan diperlukan sebuah mekanisme yang bisa membuat itu bisa bergerak.


Kalau bersinergi berarti ada sebuah mekanisme hubungan antar subyek yang lebih jumlahnya lebih dari 2 subyek yang saling mempengaruhi, sinergi tidak harus selalu hubungan manusia dengan manusia karena manusia dengan alam juga bisa bersinergi.

Sinergi adalah suatu bentuk/citra dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan sesuatu
yang balance harmony sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum. Menurut saya:

Sinergi=balance X harmony = Individual balance X harmony interaction = balance harmony


Sinergi bisa "tercipta" apabila didalamnya terdiri dari individu-individu atau community-community yang dalam kondisi balance. Balance yang berarti seimbang, dalam kondisi balance maka secara psikologis akan timbul kondisi "nyaman" *bukan keenakan/comfort zone*, yaitu sebuah kondisi yang tidak ada pertentangan internal, baik itu pertentangan internal individu (pertentangan dalam diri) maupun pertentangan antar individu dalam community. Ketika tidak ada pertentangan maka energi psikis akan lebih powerfull. Kalau digali lebih dalam agar tidak terjadi pertentangan dalam diri maka diperlukan "deal" dengan diri sendiri , sebuah deal yang tidak karena terpaksa atau dipaksakan tapi sebuah deal yang didasari oleh kesadaran penuh dan diterima dengan penuh sepenuh hati*ikhlas*

Kondisi psikologis yang nyaman akan menghasilkan suatu proses berpikir yang creative, imajinasi atau tindakan yang optimum karena tidak dihambat oleh variable "
pertentangan/bertentangan" dalam diri. Contoh situasi konkritnya adalah kita tidak bisa bekerja dengan tenang di kantor ketika kita tahu anak dan istri kita sedang sakit dirumah, akan timbul sebuah pertentangan, ingin bekerja tapi tidak tega meninggalkan anak istri, tapi kalau tidak bekerja ada deadline yang harus diberesin. Situasi ini akan beda ketika anak istri kita sehat walafiat dirumah mengantar kita sampai depan pintu ketika berangkat kerja dan mendengar sejumput doa penuh ikhlas yang terucap dari mereka doa untuk kesusksesan kita.

Kondisi balance harus didasari kondisi psikologis tanpa pertentangan.


The term harmony originates in the Greek harmonía, meaning "joint, agreement, concord".
In Ancient Greek music, the term was used to define the combination of contrasted elements: a higher and lower note
(http://en.wikipedia.org/wiki/Harmony)


Harmony adalah interaksi penyesuaian yang menyambungkan kondisi yang secara individu terlihat kontras (uniq, tidak seragam).

Kondisi Balance Harmony adalah kondisi System yang bisa menonjolkan elemen-elemen yang berinteraksi adalah elemen-elemen yang muncul apa adanya yaitu sebagai elemen yang uniq, elemen yang menempati titik koordinat masing-masing yang menjalankan fungsinya secara proporsional.

Menemukan atau menentukan element pada titik koordinat yang tepat tentu sebuah tantangan tersendiri. Sampai sejauh yang saya yakini sampai saat ini bahwa setiap element baik itu benda mati atau mahluk hidup mempunyai keuniqan sendiri, ya "sesuatu yang beda" yang tidak dimiliki oleh yang lain, ke uniqan itulah kelebihan, ke uniqan bisa tercitra sebagai jati diri. Ketika "sesuatu yang beda" itu terlihat dan bekerja pada koordinatnya maka tiada yang bisa menandingi karena tidak ada elemen lain yang "menyamainya", impactnya adalah hasil menjadi optimum..

Ban hanya akan menjadi ban ketika berdiri secara individu, rantai hanya akan menjadi untaian besi yang bersambung menjadi kalung besi, carburator hanya akan terdiam seribu basa tanpa busi dan bensin, baut mur hanya akan menggelinding kesana kemari jadi mainan anak-anak ketika dia kesepian tanpa teman.

Namun sungguh luar biasa ketika masing-masing elemen tersebut bersatu dalam sebuah sistem, duduk pada koordinatnya masing-masing menjalankan fungsinya masing-masing maka akan menjadi sebuah benda/sistem baru yang bernama "sepeda motor". Ketika tiap-tiap element tersebut bernaung bersama dalam sebuah sistem yang namanya sepeda motor maka Baut mur tidak bisa menggantikan Ban, carburator juga tidak bisa cemburu pada bensin, busi tidak bisa iri kepada rantai... ya semuanya berjalan pada koordinatnya masing-masing dan bekerja secara proporsional... hasilnya sebuah sinergi...

Rantai yang kalau berdiri sendiri tidak bisa memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain, namun ketika berinteraksi dan menyatu dalam sebuah sepeda motor maka rantai tidak bisa diremehkan fungsinya agar motor bisa memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lainnya...

Ban kalau menggelinding sendiri mungkin hanya bisa lari dengan kecepatan 5 Km/Jam namun ketika berinteraksi dengan rantai, carburator, bensin, busi, setir,velg secara proporsional bisa lari dengan kecepatan 100 Km/Jam..


Jadi sinergi memang bisa membuat 1 + 1 = 100

Kenapa harus proporsional ? karena sesuatu yang tidak sesuai dengan proporsinya biasanya menimbulkan dampak yang kurang baik

Sinergi = Balance X Harmony = Tanpa Pertentangan X Berfungsi pada koordinatnya(uniq) X Proporsional