Benarkan usaha yang pernah kita lakukan itu ada yang sia-sia, tidak berguna, tanpa hasil ?
Sering kali kita ragu, gak yakin dengan hasil apa yang kita lakukan, keraguan adalah bentuk ketidak percayaan pada diri sendiri, tidak percaya akan usaha yang dilakukan oleh kita sendiri. Kalau kita tidak bisa percaya pada diri sendiri bagaimana kita bisa berusaha maksimal, kalau kita tidak bisa berusaha maksimal bagaimana kita bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam ilmu fisika ada yang namanya rumus momentum :
m1*v1=m2*v2
m=massa
v=kecepatan
rumus itu menurut saya berlaku juga dengan usaha versus hasil:
usaha1*usaha2 = hasil1 atau
usaha1*usahaA = hasil1*hasilB*hasilZ...~
kalau mereferensi pada rumus momentum setiap usaha tentu selalu ada hasilnya, tapi masalahnya apakah hasil itu selalu dengan "bentuk" yang kita harapkan? nah ini kadang sering jadi teka-teki, seringkali apa yang hasil usaha yang kita lakukan tidak sesuai dengan yang kita "angankan/harapkan".
"bentuk" yang saya maksud bisa berupa wujud, angka, waktu dsb, bisa jadi usaha yang kita lakukan sekarang hasilnya 2 tahun mendatang, bisa jadi kita sekarang berusaha menggeluti usaha dibidang properti tapi ternyata dapat rejeki malah pada saat jualan bakso.
Setiap hasil yang kita nikmati saat ini tidak lepas dari setiap usaha kita dimasa lalu, artinya kalau kita ingin hasil yang "baik" dimasa mendatang, maka kita harus berusaha "baik" mulai saat ini.
Benih-benih usaha kita saat ini suatu saat akan menjelma menjadi "hasil".
Kalau kita yakin bahwa setiap usaha yang kita lakukan pasti ada hasilnya maka kita tidak akan pernah untuk berhenti ber-usaha karena kita sudah yakin bahwa setiap usaha tidak ada yang sia-sia, tak akan ragu bahwa suatu saat kita akan menikmati hasilnya.
Tiada kekuatan se-dasyat yang namanya "keyakinan", sebuah keyakinan bisa merubah sesuatu yang dianggap mustahil menjadi mungkin. Bagaimana cara menumbuhkan keyakinan? jawabannya adalah percaya pada diri sendiri, beri kepercayaan pada diri dan pelajari pola alam, hukum alam jadikan itu pegangan. Setelah kita memahami dan mengalami apa itu percaya pada diri sendiri, bagaimana itu hukum alam bagaimana itu pola alam maka insyaAllah akan tumbuh yang namanya keyakinan..
contohnya, kita bekerja menjadi karyawan setiap tanggal 27 akhir bulan kita dapat gaji, kondisi perusahaan bagus, maka setiap bulan kita sudah tidak berpikir jauh menganalisa kita sudah yakin dengan sendirinya bahwa bulan depan diakhir bulan kita dapat gaji
namun ada kalanya yakin itu tanpa syarat....!!!
salam
budi
Cerita hati terpaut dalam untaian pena menggetarkan rasa untuk membawa kita kembali merenungi perjalanan hakiki hidup ini
Sebuah catatan tentang puasa…
Berbagai alasan seseorang untuk tidak makan, baik secara sengaja maupun tidak. Yang paling sering terjadi yaitu pada orang yang keasyikan mengerjakan pekerjaan yang menarik baginya, seperti hobi, game, dst. Ketika seorang anak menginginkan sesuatu, tapi tidak dipenuhi oleh orang tuanya, ia juga bisa mogok makan. Kemiripan perilaku ini juga bisa terjadi pada demonstran, mogok makan sampai tuntutannya terkabul. Seorang empu yang ingin membuat karyanya menjadi bertuah juga melakukan ritual puasa terlebih dulu, ini mengisyaratkan suatu karya yang dibuat dengan penuh kesungguhan. Seseorang yang sedang jatuh cinta, juga bisa kehilangan napsu makan, minum dan tidur. Dalam kasus lain, suatu sikap puasa juga terjadi pada seorang sniper, bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tapi juga tidak menggerakkan badan, tidak batuk, dan fokus pada sasaran.
Di sini puasa menjadi suatu pilihan sikap alamiah yang ingin menunjukkan suatu kesungguhan dalam menginginkan sesuatu. wajar jika puasa diwajibkan pada kaum sebelum kita. Ada benang merah antara puasa islami dengan sikap mental puasa yang terjadi secara alamiah yaitu adanya ”konsistensi”. Namun kelengkapan yang terjadi pada puasa di bulan suci ini kandungan persyaratannya didefinisikan secara tegas supaya sikap mental ”konsisten”nya lebih mudah dicapai.
Hal-hal seperti berikut dapat menjadi catatan :
Relaksasi.
Puasa Merelaksasi organ-organ tubuh mulai dari pencernaan, pembuluh darah, sistem syaraf dan sebagainya. Sehingga terjadi peningkatan efisiensi, efektifitas, dan ketahanan tubuh.
Purifikasi.
Purifikasi yang paling klasik adalah antara diri dan nafsu, misalnya ” diri kita memerangi hawa nafsu”. Konsekuensinya harus ada kemampuan mengindentifikasi mana diri dan mana nafsu. Jika tidak jelas maka mustahil bila diri kita bisa memerangi hawa nafsu. Yang lebih mendasar justru mengindentifikasi antara lain :
- Diri vs Identitas
- Diri vs Pikiran
- Diri vs Keinginan
- Diri vs Perilaku
Filtrasi
Seandainya proses yang kedua bisa berjalan dengan baik, maka yang tersisa adalah diri kita yang memiliki kekuatan fokus pada tujuan hidup. Kita bisa eliminir input-input yang menjadi gangguan seperti terhasut, terprovokasi, buruk sangka, putus asa, dsb.
Sikap objektif merupakan sikap yang akan terjadi dari aspek ini.
Konsistensi.
Suatu tantangan dari sikap konsisten yaitu semua ibadah akan dikembalikan lagi pada kita, kecuali puasa, untuk Allah. Dalam hal ini kita diberikan momen untuk mengkalibrasi tingkat keyakinan kita. Bagi yang sudah mengikuti CL 2 (*www.cosmic-link.or.id*-red), tentu masih ingat bahwa keyakinan terkait dengan pengakuan absolutisme Allah (tidak bertanya dan tidak mempertanyakan). Dalam hal ini ada makna yaitu rambu-rambu kedalam diri untuk hening, fokus, objektif, untuk merasakan kekuasaan-Nya sambil terus menerus melakukan upaya kontrol diri.
Transformasi.
Bulan puasa merupakan bulan yang penuh ampunan dan anugerah. Tergantung secara personal siapa dan bagaimana menjalani puasa. Hal ini menyiratkan puasa adalah suatu proses yang personal dan individual, walaupun dilakukan secara masal.
Transformasi akan didapat oleh orang yang menjalani puasa baik lahir maupun bathin, hal ini bisa terlihat dengan isyarat diberikannya fasilitas malam Lailatul Qodar, yang setara dengan seribu bulan, artinya kualitas pikiran kita mengakses realita yang lebih abadi. Jadi jika dilihat secara menyeluruh, jika trasformasi terjadi, maka sikap mental puasa menjadi bermakna bagi siapapun secara lebih langgeng.
Salam buat semua
Aas R.
disunting dari http://group.yahoo.com/groups/cosmic-link
Merah Putih Berteriak
Merah Putih Berteriak, menggeliat bercucuran keringat, terseok-seok berjalan dengan tapak kaki semakin lama tergores luka disana-sini.
Merah Putih kembali berteriak harus memikul beban utang begitu banyak, harus bertahan dengan jerit kelaparan yang semakin memekakan telinga, harus bertahan dengan kesedihan menutup wajah teriakan demo disegala penjuru, harus menahan tetes airmata melihat antrian rakyat untuk mendapatkan setetes BBM dan beras.
Merah Putih semakin bermuram durja banyak rakyat merasa tidak mendapatkan keadilan, merah putih semakin gemetar untuk memikul kepedihan dan kepiluan rakyat jelata sementara diseberang sana beberapa segelintir orang hanya duduk bersila tanpa merasa berdosa telah menghisap darahnya.
Merah Putih kau harus kuat karena kau pengayom rakyatmu
Merah Putih kau harus berani karena merahmu adalah semangat rakyatmu
Merah Putih kau harus bangkit karena kau pemersatu bangsa
Gaungkan kembali suaramu "BHINEKA TUNGGAL IKA"
Gaungkan kembali "SUMPAH PEMUDA"
Mari bahu membahu bersama benahi bangsa ini..
Tak perlu saling tunjuk, tak perlu saling cerca, tak perlu saring curiga, tak perlus sari iri..
Mari benahi bangsa ini dengan benahi diri sendiri
Merah Putih Berteriak untuk bangkit....teriakan kebangkitan kita bersama...
Merah Putih kembali berteriak harus memikul beban utang begitu banyak, harus bertahan dengan jerit kelaparan yang semakin memekakan telinga, harus bertahan dengan kesedihan menutup wajah teriakan demo disegala penjuru, harus menahan tetes airmata melihat antrian rakyat untuk mendapatkan setetes BBM dan beras.
Merah Putih semakin bermuram durja banyak rakyat merasa tidak mendapatkan keadilan, merah putih semakin gemetar untuk memikul kepedihan dan kepiluan rakyat jelata sementara diseberang sana beberapa segelintir orang hanya duduk bersila tanpa merasa berdosa telah menghisap darahnya.
Merah Putih kau harus kuat karena kau pengayom rakyatmu
Merah Putih kau harus berani karena merahmu adalah semangat rakyatmu
Merah Putih kau harus bangkit karena kau pemersatu bangsa
Gaungkan kembali suaramu "BHINEKA TUNGGAL IKA"
Gaungkan kembali "SUMPAH PEMUDA"
Mari bahu membahu bersama benahi bangsa ini..
Tak perlu saling tunjuk, tak perlu saling cerca, tak perlu saring curiga, tak perlus sari iri..
Mari benahi bangsa ini dengan benahi diri sendiri
Merah Putih Berteriak untuk bangkit....teriakan kebangkitan kita bersama...
Kemarin 100 Hari
100 Hari... AdikkuYa.. telah 100 hari engkau meninggalkan semua yang disini ...
Kecintaanmu yang begitu kuat, semangatmu yang selalu membara, tawamu yang selalu ceria, semua menjadi lukisan, engkau telah selesai melukis, lukisanmu begitu manis dan indah...
Kami yang ditinggalkan ini harus banyak belajar darimu, engkau banyak meninggalkan lukisan yang telah menyadarkan banyak orang akan kecintaanmu...
Kegigihanmu, Kecintaanmu, Belas kasihmu, Semangat perjuanganmu..
Tetes peluhmu masih melekat di meja kursi yang telah kau gores..
Spirit semangat juangmu masih menyatu di dinding rumah..
Keteduhanmu masih tumbuh di kembang-kembang yang telah kau tanam..
Suara merdu ngajimu masih mengiang di dinding mushola...
Ketaatanmu adalah lukisan yang tak khan pernah terhapus..
Karena kau memang masih ada ..
Kau bilang begitu rindu dengan Muhammad yang begitu kau cintai
Kau bilang begitu rindu dengan Allah yang selalu kau Agungkan
Allah begitu mencintaimu sehingga Dia tak sabar dengan memanggilmu
Adik semua yang disini selalu mendoakanmu
Semoga kau selalu damai dalam pelukanNya dengan Dia yang begitu kau cintai dan kau Agungkan...
*kupersembahkan untukmu adikku Lely Suhartanto*
Hening,teduhkan hati tuk melihat pancaran ilahi
Bangun pagi hari, duduk diserambi rumah sembari nunggu sava mau berangkat ke tempatnya bermain (playgroup). Menikmati udara bogor di pagi hari yang masih segar segelas teh manis hangat dan Novel Alkhemis karya Paulo Coelho menemanikku, tgl 16-19 aug 05 aku cuti dari segala aktifitas pekerjaan dikantor, berhela sejenak dari riuh pikuknya kemacetan jalan-jalan di kota jakarta yang selalu menjadi santapanku tiap hari pulang-pergi ke kantor.me- refresh kembali novel Alkhemis ternyata dasyatnya tidak lagi kurasakan sedasyat pertama kali kubaca buku ini tapi nuansanya masih lumayan untuk mengisi dan meneduhkan hati dipagi hari. Dua burung pipit dan seekor kupu-kupu bermain berterbangan di pucuk-pucuk kembang yang di tanam istriku. Pucuk-pucuk kembang yang hijau segar gulir embun masih menetes, tanah yang separo basah karena habis disiram menambah suasana kesejukan. Sava berangkat bermain diantar istriku, cium pipi kiri kanan menambah kedamaian rasa hati, kegembiraan anak, senyuman istri, cium peluk dari orang yang kita sayang adalah suatu anugerah yang luar biasa.
Kucoba melepas semua kepenatan dari aktifitasku sehari-hari, kunikmati detik demi detik kebersamaan bersama anak istriku yang biasanya hanya kudapat pada akhir pekan. Suasana yang luar biasa, suasana kebahagiaan, kedamainan dalam kebersamaan, tertawa dan bercanda bersama terkadang teriring tangis dari sava, nuansa warna-warni yang membuat rumah jadi bersinar penuh keikhlasan dan kebahagiaan.Terkadang kita terlalu sibuk dengan aktifitas pekerjaan sampai kita terlewat menikmati suasana indahnya sebuah keluarga. Pekerjaan hanyalah salah satu pilar dari kebutuhan rumah tangga, syukur akan suasana damai, bahagia dan kesejukan keluarga juga salah satu pilar.
Menjemput sava dari sekolahnya, dia begitu gembira aku jemput naik motor, dengan sigap dia naik motor dan minta bonceng di depan, aku tanya tadi di sekolah diajarin apa, sava yang baru 2.5 th itupun bercerita dengan antusiasnya, cerita diajarin nyanyi diajarin nari bercerita di sepanjang jalan perumahan komplek yasmin. Interaksi dengan anak baik tawa atau tangis adalah anugegrah sesuatu yang luar biasa yang diberikan kepada kita, munculah rasa cinta dan kasih. Peluk,cium, canda tawa dan tangis istri juga adalah sebuah anugerah yang patut kita syukuri, sebagai pasangan hidup tempat kita berkaca diri, tempat berbagi dan menumpahkah kasih sayang dan cinta kita.
Kita tidak hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang, kita juga membutuhkan tempat curahan cinta dan kasih sayang, keluarga (anak dan istri) bisa memberikan kedua-duanya.
*hening,teduhkan hati tuk melihat pancaran ilahi*
Ancol 30 Jul 2005
"papa...papa.. tolong dong... ayo dong.." begitu teriak kecilmu terucap (*300805 ancol*). Kita melangkah bergandeng bersama menyusuri pantai yang sudah disulap jadi susunan paving-paving dan tumpukan batu yang tersusun lama. "Papa.. apa itu..wah...wah.. ada pelahu..", "Iya nak.. itu perahu, ayo coba hitung jumlah perahunya ada berapa", " satu..dua..tiga...empat..", "horeeee..."."coba sava duduk disitu..diem ya...ok..senyum dikit..ayo dong...nah gitu..." sejenak terdengar "click" kamera itu telah mengabadikan gambarmu di umur 3th 4 bulan genap 10 hari.
Kau memandang jauh ke depan jangan terlupa tapak kaki berpijak
Kau ketawa lepas jangan lupa ada tangis yang juga indah
Kau teriak kencang jangan lupa untuk diam sesaat meredam rasa
Nak tak terasa kau telah besar kini..
Tangismu.. Tawamu... indah menghiasi dunia,
Mantapkan langkah, lantang teriakkan keyakinanmu, jalanlah lurus dengan lentera hatimu..
With love papa & mama
Jejak Tapak Tak Pernah Terhapus
Jejak kaki yang sudah tertapakai gak akan pernah terhapus
Langkah perlangkah yang bukan karena langkahkupun tak bisa terhapus
Semuanya terukir satu persatu yang menunjukkan diriku atau dirimu itu siapa
Banyak hal yang kadang ingin ku hapus karena kusangka lukisan itu tidak bagus, tapi ternyata tangankupun tak mampu untuk mengambil kanvas untuk kulukis menjadi putih bersih untuk ku lukis kembali
Putih bersih tak berarti baik, corat-coret sana-sini tak berarti kotor
Darimanapun atau dari siapapun aku dilahairkan di dunia itu hanyalah coretan kecil untuk diriku yang aku tak akan bisa mengubahnya
Dengan siapapun dan darimanapun aku berkawan dan berteman itu hanyalan coretan kecil untuk menebalkan lukisan diriku
Diriku darimana? tak pernah aku pertanyakan dan tak akan aku permasalahkan
Mengapa diriku? kadang pertanyaan yang terlalu naif aku pertanyakan
Diriku saat ini adalah diriku saat ini
Kau terima atau tidak, aku tidak punya hak untuk mengaturnya karena kau yang lebih tahu apakah aku akan atau tetap kau terima atau tidak
Kakiku untuk melangkah tak akan terhenti sebelum lukisan diriku lengkap garis gores dan titik yang tertuang diatas hamparan alam semesta dimana ku dilahirkan
Tarikan untuk menghentikan kakiku kadang terlalu kuat, ku sering tak berdaya ku hanya bisa terdiam dalam kesendirian dalam kesepian yang tak bisa terucapkan
Aku hanya bisa menatap lukisan yang telah tergores dan digoreskan untukku
Pilihanku hanya mau menerima atau tidak, tidak lebih tidak kurang.
Ku terjepit dalam ketakberdayaan
Semua ini aku tidak pernah ingin dan juga tak pernah meminta
Inilah lukisanku
Inilah diriku
Jika kau pertanyakan aku mengapa, darimana dan kenapa tidak, maka pertanyakanlah pada yang menciptakanku....
Budi dalam kubah harubiru
Langkah perlangkah yang bukan karena langkahkupun tak bisa terhapus
Semuanya terukir satu persatu yang menunjukkan diriku atau dirimu itu siapa
Banyak hal yang kadang ingin ku hapus karena kusangka lukisan itu tidak bagus, tapi ternyata tangankupun tak mampu untuk mengambil kanvas untuk kulukis menjadi putih bersih untuk ku lukis kembali
Putih bersih tak berarti baik, corat-coret sana-sini tak berarti kotor
Darimanapun atau dari siapapun aku dilahairkan di dunia itu hanyalah coretan kecil untuk diriku yang aku tak akan bisa mengubahnya
Dengan siapapun dan darimanapun aku berkawan dan berteman itu hanyalan coretan kecil untuk menebalkan lukisan diriku
Diriku darimana? tak pernah aku pertanyakan dan tak akan aku permasalahkan
Mengapa diriku? kadang pertanyaan yang terlalu naif aku pertanyakan
Diriku saat ini adalah diriku saat ini
Kau terima atau tidak, aku tidak punya hak untuk mengaturnya karena kau yang lebih tahu apakah aku akan atau tetap kau terima atau tidak
Kakiku untuk melangkah tak akan terhenti sebelum lukisan diriku lengkap garis gores dan titik yang tertuang diatas hamparan alam semesta dimana ku dilahirkan
Tarikan untuk menghentikan kakiku kadang terlalu kuat, ku sering tak berdaya ku hanya bisa terdiam dalam kesendirian dalam kesepian yang tak bisa terucapkan
Aku hanya bisa menatap lukisan yang telah tergores dan digoreskan untukku
Pilihanku hanya mau menerima atau tidak, tidak lebih tidak kurang.
Ku terjepit dalam ketakberdayaan
Semua ini aku tidak pernah ingin dan juga tak pernah meminta
Inilah lukisanku
Inilah diriku
Jika kau pertanyakan aku mengapa, darimana dan kenapa tidak, maka pertanyakanlah pada yang menciptakanku....
Budi dalam kubah harubiru
Subscribe to:
Posts (Atom)