Sejumput Doa

Tetapkan spirit-Mu itu tanpa batas kepadaku..
Pelukkan rasa ikhlas-MU itu kepadaku tanpa syarat..
aku tak mampu untuk membuat ikhlas ataupun menguatkan spirit atas diriku karena semua itu adalah milik-Mu..
Segala daya upaya adalah milikmu..
Ku hanya belajar menjalani dan berusaha selanjutanya adalah milik-Mu..

Rengkuhan ikhlas-MU yang khan membawaku menuju tanpa batas..
Tegur sapa sayangMu khan membuatku semakin memahami akan cintaMU..
Keajaiban-keajaiban kecil yang tunjukkan padaku membuatku semakin menyayangiMu..
Tenangkanlah jiwaku dalam rengkuhan Ikhlas dan sayangMu tanpa jeda dan batas fatamorgana

Generasi itu

Kulihat generasi itu bersimbah keringat di pinggiran jalan, dengan mata yang selalu berharap, tangan yang tak lepas dari alat "kencrengan" bernyanyi tak peduli fals atau tidak, tak peduli yang mendengarkan suka atau tidak.. karena harapan mereka yang begitu besar tidak mempedulikan itu semua. Hanya harapan yang menguatkan mereka untuk tetap menjalini hidup...

Aku tidak tahu apakah mereka masih sanggup untuk membuat mimpi-mimpi..
Gambaran mimpi yang murah meriah diobral dilayar telivisi, mimpi-mimpi dari gaungan hedonisme, gaulisme yang tak peduli akhirnya ditelan mentah-mentah oleh generasi itu tanpa melihat pijakan kakinya...

Generasi itu telah dibuai mimpi-mimpi instan yang meracuni mereka setiap hari, tayangan mimpi yang tidak dibarengi penunjukan jalannya.. akhirnya membuat tunas-tunas muda itu hanya menerima..menerima..menerima.. dan tak sempat berpikir. Ya, generasi itu telah menjadi robot-robot yang diisi dengan mimpi-mimpi instan...

Menjaga Orientasi

Menjaga memang tidak lebih ringan dari pada membentuk ataupun membangun. Sebuah Orientasi kesadaran (VISI) yang berprosesi (berevolusi) menjadi sebuah keyakinan memerlukan proses pengujian berupa noise. Noise bisa menjadi faktor penguat keyakinan apabila kita tetap bisa berpegang kuat pada orientasi kesadaran yang telah kita dapat, namu noise juga bisa destructive terhadap keyakinan kita apa kita tidak bisa kukuh kuat memegang orientasi.

Noise sering kali muncul dari faktor eksternal dari diri kita, namun apabila kita telaah dan renungkan lebih jauh triger noise dari luar sering kali tidak begitu kuat namun impactnya kadang terasa begitu menggoyahkan kita. Menurut saya disinilah sebenarnya titik yang bisa kita jadikan parameter seberapa kuat sebenarnya kita menjaga orientasi dan kekuatan keyakinan kita. Apabila noise tersebut menggoyahkan orientasi kita mungkin perlu direview ulang level keyakinan kita.

Keyakinan tidak dapat terpisahkan dari pengalaman dan *menurut saya* kepasrahan akan kekuasaan absolut Tuhan...

Sistem dan Kebebasan Berpikir

Kita diberi hidup hanya sekali, waktu yang selalu menemani kita tidak bisa berjalan mundur, alam semesta begitu luas langit bumi beserta isi didalamnya, namun mari kita pertanyakan pada diri kita sendiri.. dari sekian luas arena semesta yang diberikan ke kita dengan waktu yang begitu terbatas yang kesempatannya diberikan ke kita, seberapa banyak yang telah kita nikmati ?

Dunia ini begitu luas, begitu banyak yang "seharusnya" bisa kita perbuat,namun mari kita pertanyakan kembali, sudah berapa banyak yang telah kita perbuat?

Sering kita tidak bisa berbuat banyak dari yang "seharusnya" hanya karena kita terbatasi oleh sistem, hanya karena kita merasa tidak berani keluar dari sistem sehingga kita lebih merasa nyaman mengikuti sistem yang telah ada karena sistem yang telah ada itu di amini oleh lingkungan kita sebagai kesepakatan bersama meskipun kita merasa sistem itu telah membelenggu kita. Pertanyaannya, apakah sistem yang kita jalani ini benar-benar kita sadari sudah match dengan yang ada dalam diri kita? atau kita memang "terpaksa" berkompromi dengan diri untuk tetap mengikuti jalan dan sistem yang ada karena kita tidak berdaya untuk membuat sistem sendiri?

Merasa tidak berdaya menurutku itu masih bisa ditolerir tapi yang kritis apabila kita tidak mau merubah atau membuat sistem yang sesuai dengan kita karena kita "tidak mau"!!!

Ketika kita terlarut dalam sistem yang telah terbentuk cenderung kita akan mengikuti dan akan terjadi pergulatan dalam batin kita apakah kita cocok dengan sistem yang ada apa tidak. Ketika kita bisa berkompromi itu tidak akan menjadi soal, walaupun level kompromi kadang ada batasnya.

Hal yang menurutku penting adalah tidak soal apakah kita mengikuti sistem yang ada, berkompromi ataupun terpaksa mengikuti sistem yang ada selama "PIKIRAN KITA MASIH BISA BERPIKIR MERDEKA".

Jangan sampai sistem yang ada dilingkungan kita mengkebiri pikiran kita, karena pikiran, proses berpikir,output ataupun outcome dari pikiran kita adalah hal esensi yang kita punyai sebagai manusia.

Keraguan dan Nyali

Ketika lingkungan kita sudah memberikan "sign yes" dengan apa yang akan kita tempuh ternyata itu tidak cukup, karena sering kali keraguan itu menjadi acesoris soulmate dari yang namanya sebuah keputusan, keraguan akan terus mendampingi dan satu hal yang bisa memeluk keraguan itu untuk diyakinkan yaitu sebuah keyakinan dan nyali.

Berhargakah sehirup nafas kita?

Sekali-kali mari kita coba untuk "mencelupkan" kepala dan tubuh kita kita kedalam air biarkanlah sejenak bagaimana reaksi tubuh kita ketika tidak bisa bisa menghirup udara yang gratis, biarkanlah sejenak pikiran kita bereaksi ketika kita tidak bisa menghirup udara, apa yang akan kita rasakan ?

Tubuh akan bereaksi, pikiran akan bereaksi ada rasa panik, ada rasa penat, ada rasa takut, ada rasa "butuh nafas", ya... tubuh dan pikiran kita berontak untuk minta menghirup nafas barang sehela.

Nafas yang selama ini setiap waktu kita lakukan yang sering tanpa kita sadari, suatu "fasilitas" yang kita nikmati setiap waktu namun sering tanpa kita sadari begitu perlunya dan butuhnya kita akan nafas..

Sering kita mengeluh dengan beban-beban kita yang terus menerpa dalam kehidupan kita sehari-hari... pertanyaannya lebih berat manakah beban yang kita hadapi saat ini dibanding "rasa berat (baca:beban)" ketika kita tenggelam dalam air dan butuh menghirup udara dan bernafas...??

Namun, kita masih dikasih udara "gratis" untuk kita hirup setiap saat, suatu kebutuhan "solusi beban" yang diberikan cuma-cuma dan kita nikmati setiap saat namun tanpa kita menyadarinya..

Tidak bersyukurkah kita dengan sehela nafas yang mengalir dalam tubuh kita dengan "gratis" setiap saat ?

Tidak adakah alternatif respon lain selain mencela dan mengeluh ?

Bagaimana respon kita terhadap situasi atau kondisi itu terserah kita mau memilih merespon seperti apa,
bisa merespon mencela, bisa merespon menggerutu, bisa merespon mengeluh atau mensikapi dengan positif thinking dan bersikap positif.

Kalau memang kondisi bangsa ini sekarang sudah dalam keadaan terpuruk, kalau kita menganggap para pemimpin kita sudah disorientasi, kalau opini publik bilang bahwa para pemimpin kita adalah oportunis, dan para pemimpin negara ini dianggap sontoloyo, SO WHAT...???

Apakah kondisi tersebut bisa menjadi lebih baik dengan kita menyikapinya dengan ", mencela, mencaci, menggerutu", menurutku bila kita mensikapinya negatif, mencela,mencaci,menggerutu maka akan semakin memperburuk keadaan, bahkan tanpa kita sadar kita menumbuh suburkan situasi yang katanya "sontoloyo" itu, respon cacian kita semakin memperburuk keadaan.

Bangsa ini memang sedang terpuruk dan akan lebih terpuruk lagi kalau semua orang di negeri ini menjadi pesimis dengan bangsanya dan hanya bisa mencela dan menggerutu sampai tidak tahu apa yang bisa dilakukan, maka bangsa ini akan pelan-pelan tenggelam dengan sendirinya.

Bangsa ini akan semakin kurus kering dan menderita bila kita mencelanya, yang dibutuhkan bangsa ini adalah sikap optimisme, sikap semangat membentuk peradaban baru, sikap positif mindset dan implementatifnya, sikap mau menjalankan comitmentnya, sikap mau memperbaiki system, sikap mau sharing, sikap integritas. Pertanyaannya dari mana kita mulai? pola alam mengajarkan mulailah dari yang kecil, dari diri sendiri dan lingkungan terdekat



salam
budi